Rabu, 08 Juni 2016

senja dan kamu (lagi)



Terdengar suara motormu terparkir dihalaman, akupun beranjak menuruni anak tangga dengan perasaan tak sabar ingin bertemu. Dan lagi, kuliat senyummu menyambut ragaku yang berjalan menghampirimu, senyum itu yang selalu membuatku buta dengan keadaan sekitar dan hanya menatap dimana arah kamu berada.
Ketika matahari mulai redup, aku berada dibelakangmu, dengan debar yang selalu terasa ketika kamu disisiku, dengan senyum simpulku yang selalu aku sembunyikan dibalik punggungmu, dengan pikiran yang selalu ingin memelukmu.
Ketika senja itu datang, kamu disini bersamaku, menghabiskan waktu berdua, jemarimu menggenggam erat jemariku, seakan mengisyaratkan bahwa kamu ingin aku selalu menemani setiap langkahmu. Ketika senja itu datang, dalam diam kita menikmatinya. Ketika senja itu datang, tidak perlu menghambiskannya dipingir pantai dengan deburan ombak, cukup dengan kamu merangkulku, sore ini sudah berlalu sangat menakjubkan.
Kamu layaknya senja didalam hidupku. Senja hadir hanya sebentar, sesaat lalu menghilang tergantikan malam, namun harus selalu kau ingat, senja selalu memberikan antraksi yang mencengangkan, memberikan kenyamanan, dan kehangatan. Seperti kamu, walaupun aku tidak pernah tau sampai kapan kamu ada untukku, bisa jadi esok lusa kamu tinggal bayangan dalam hidupku, tetapi kamu telah meninggalkan banyak hal yang ketika aku mengingatnya aku akan tersenyum, memberikan kenyamanan yang selama ini aku harapkan, dan menghangatkan jiwaku yang selama ini terasa membeku.
Senja senja yang telah kita lalui bersama adalah anugrah alam paling berharga dalam ingatanku. Berjalan berdua, menemaniku menyusuri pusat kota hingga pinggiran kota. Atau hanya sekedar duduk menatap bumi menelan surya. Dengan diiringi celoteh kecilmu yang membuat aku tertawa, atau hanya berdiam mendengarkan bisik angin disela antara kamu dan aku. Terima kasih atas semua waktumu yang telah diberikan kepadaku, terima kasih telah memperkenalkan aku dengan senja terindah dibelahan dunia. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan lebih lama menikmati parasmu. Dan terima kasih untuk telah menciptakan warna-warni dalam ceritaku.
Sungguh, inginku akui, ada harapan yang diam-diam aku sematkan dalam doa. Menginginkan kamu seperti senja, seperti senja yang walau sesaat tetapi tak pernah sekalipun ia ingkar, seperti senja yang selalu setia, seperti senja yang akan terus ada dan dapatku liat setiap hari, seperti senja yang menjanjikan keindahan setiap ia menyapa, dan seperti senja yang walaupun tergantikan malam esoknya dia tetap disana untuk kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar