Terdengar suara motormu terparkir dihalaman, akupun beranjak
menuruni anak tangga dengan perasaan tak sabar ingin bertemu. Dan lagi, kuliat
senyummu menyambut ragaku yang berjalan menghampirimu, senyum itu yang selalu
membuatku buta dengan keadaan sekitar dan hanya menatap dimana arah kamu
berada.
Ketika matahari mulai redup, aku berada dibelakangmu, dengan
debar yang selalu terasa ketika kamu disisiku, dengan senyum simpulku yang
selalu aku sembunyikan dibalik punggungmu, dengan pikiran yang selalu ingin
memelukmu.
Ketika senja itu datang, kamu disini bersamaku, menghabiskan
waktu berdua, jemarimu menggenggam erat jemariku, seakan mengisyaratkan bahwa
kamu ingin aku selalu menemani setiap langkahmu. Ketika senja itu datang, dalam
diam kita menikmatinya. Ketika senja itu datang, tidak perlu menghambiskannya
dipingir pantai dengan deburan ombak, cukup dengan kamu merangkulku, sore ini
sudah berlalu sangat menakjubkan.
Kamu layaknya senja didalam hidupku. Senja hadir hanya
sebentar, sesaat lalu menghilang tergantikan malam, namun harus selalu kau
ingat, senja selalu memberikan antraksi yang mencengangkan, memberikan
kenyamanan, dan kehangatan. Seperti kamu, walaupun aku tidak pernah tau sampai
kapan kamu ada untukku, bisa jadi esok lusa kamu tinggal bayangan dalam
hidupku, tetapi kamu telah meninggalkan banyak hal yang ketika aku mengingatnya
aku akan tersenyum, memberikan kenyamanan yang selama ini aku harapkan, dan
menghangatkan jiwaku yang selama ini terasa membeku.
Senja senja yang telah kita lalui bersama adalah anugrah
alam paling berharga dalam ingatanku. Berjalan berdua, menemaniku menyusuri
pusat kota hingga pinggiran kota. Atau hanya sekedar duduk menatap bumi menelan
surya. Dengan diiringi celoteh kecilmu yang membuat aku tertawa, atau hanya
berdiam mendengarkan bisik angin disela antara kamu dan aku. Terima kasih atas
semua waktumu yang telah diberikan kepadaku, terima kasih telah memperkenalkan
aku dengan senja terindah dibelahan dunia. Terima kasih telah memberikan aku
kesempatan lebih lama menikmati parasmu. Dan terima kasih untuk telah
menciptakan warna-warni dalam ceritaku.
Sungguh, inginku akui, ada harapan yang diam-diam aku
sematkan dalam doa. Menginginkan kamu seperti senja, seperti senja yang walau
sesaat tetapi tak pernah sekalipun ia ingkar, seperti senja yang selalu setia,
seperti senja yang akan terus ada dan dapatku liat setiap hari, seperti senja
yang menjanjikan keindahan setiap ia menyapa, dan seperti senja yang walaupun
tergantikan malam esoknya dia tetap disana untuk kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar