Jumat, 10 Juni 2016

kau harus tau, kau sudah menyakiti



Kemarin aku tertawa lepas karenamu, bahagiaku disebabkan dirimu, dan janjimu ini akan selalu terjadi, hingga aku tak mampu lagi menghitung lamanya waktu yang kita lalui bersama. Namun kini nyatanya tak sekalipun kau hadir, sosokmu pergi meninggalkan janji yang selama ini aku percaya. Jika aku tau esok ku akan seperti ini, aku tak akan pernah membiarkan diriku menyambut dekapan kasihmu, cukuplah aku dengan hari-hari sebelum hadirnya kau walaupun harus selalu diam ditempat.
Entah harus berapa jauh lagi kaki ku berlari, melangkah meninggalkan yang telah terjadi, melumpuhkan ingatan yang lalu. Entah harus bagaimana lagi aku bergerak, jika disebelah kiri dan kananku ada kenanganmu yang tajam siap melukaiku kapanpun. Entah harus kemana lagi aku pergi , untuk mencari obat sakit direlung dasar jiwa ini.
Aku tau, luka yang paling dalam dihati ini karenamu, kenapa aku masih saja jatuh cinta berulang-ulang kepadamu? Kau tau pedihnya benci dan rindu saat datang bersamaan  ? rasanya seperti silet menyeyet wajahmu, dan seperti itulah sesak yang ku rasa tiap dinginnya malam menerpa.
Bagaimana cara menggantikan hatiku yang telah terpotong dan kemudian kau bawa lari? Bagaimana aku bertahan dengan separuh jiwaku yang separuhnya lagi ikut bersamamu?
Kau tau berapa sulitnya aku mengirup udara untuk pertahanan hidupku? Kau tau beratnya hembusan nafasku? Dan kau tau siksanya aku oleh cinta yang pernah kau janjikan ? Kau tidak akan pernah tau, seberapa sulitnya aku berpura-pura. Kau tidak akan mengerti, seberapa kuatnya aku bertahan.
Tanpamu duniaku masih berjalan. Namun tanpamu, warnaku ada yang hilang.
Aku ingin tetap disini, namun aku takut kau tak akan datang menemuiku, hingga ku sendiri, membeku oleh masalalu. Lantas, ketika aku ingin pergi, langkahku bergetar, rasa tak mampu ku berjalan tanpamu, rasa tak mampu aku menyambut rentangan tangan orang lain. Merindukanmu, aku ingin bertemu, ingin memastikan benarkah hatimu bukan untukku lagi? Namun disisi lain aku takut, matamu mengatakan “ya aku sudah tak mencintaimu lagi”
Aku disini terjebak dipenjara buatanmu, yang jika ku tetap bertahan, aku mati bersama kenangan, namun jika aku tinggalkan aku takut kau menungguku.
Sekarang aku mengerti, bahwa kau tidak hanya terkurung dihati namun juga takkan kembali.
Tetapi harus selalu kau tau, yang kau lukai bukan hal yang sepantasnya dilukai. Aku sudah memaafkan dan akupun tidak membenci, namun rasa kecewa dan sakitku terlalu dalam untuk memberanikan diri melihatmu lagi.
Sekarang biarlah, biarkan saja seperti ini, biarkan saja kau bahagian bersama pilihan hatimu, aku tidak akan menganggu, aku pergi menutup semua luka ini sendiri, berusaha menghapus semua tentangmu, kembali seakan kau tidak hadir dihidupku, dengan begitu aku rasa aku tetap akan mampu jalani hidupku dengan baik.
Maka pergilah, tapi jangan pernah datang kembali, karena luka ini masih mengangah. Jika kau ingin bertemu, nanti saja, tunggu sudah mengering, sehingga aku bisa menatap wajahmu tanpa harus menangis lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar