Kemarin aku tertawa lepas karenamu, bahagiaku disebabkan
dirimu, dan janjimu ini akan selalu terjadi, hingga aku tak mampu lagi
menghitung lamanya waktu yang kita lalui bersama. Namun kini nyatanya tak
sekalipun kau hadir, sosokmu pergi meninggalkan janji yang selama ini aku
percaya. Jika aku tau esok ku akan seperti ini, aku tak akan pernah membiarkan
diriku menyambut dekapan kasihmu, cukuplah aku dengan hari-hari sebelum
hadirnya kau walaupun harus selalu diam ditempat.
Entah harus berapa jauh lagi kaki ku berlari, melangkah
meninggalkan yang telah terjadi, melumpuhkan ingatan yang lalu. Entah harus
bagaimana lagi aku bergerak, jika disebelah kiri dan kananku ada kenanganmu
yang tajam siap melukaiku kapanpun. Entah harus kemana lagi aku pergi , untuk
mencari obat sakit direlung dasar jiwa ini.
Aku tau, luka yang paling dalam dihati ini karenamu, kenapa
aku masih saja jatuh cinta berulang-ulang kepadamu? Kau tau pedihnya benci dan
rindu saat datang bersamaan ? rasanya
seperti silet menyeyet wajahmu, dan seperti itulah sesak yang ku rasa tiap
dinginnya malam menerpa.
Bagaimana cara menggantikan hatiku yang telah terpotong dan
kemudian kau bawa lari? Bagaimana aku bertahan dengan separuh jiwaku yang
separuhnya lagi ikut bersamamu?
Kau tau berapa sulitnya aku mengirup udara untuk pertahanan
hidupku? Kau tau beratnya hembusan nafasku? Dan kau tau siksanya aku oleh cinta
yang pernah kau janjikan ? Kau tidak akan pernah tau, seberapa sulitnya aku
berpura-pura. Kau tidak akan mengerti, seberapa kuatnya aku bertahan.
Tanpamu duniaku masih berjalan. Namun tanpamu, warnaku ada
yang hilang.
Aku ingin tetap disini, namun aku takut kau tak akan datang
menemuiku, hingga ku sendiri, membeku oleh masalalu. Lantas, ketika aku ingin
pergi, langkahku bergetar, rasa tak mampu ku berjalan tanpamu, rasa tak mampu
aku menyambut rentangan tangan orang lain. Merindukanmu, aku ingin bertemu,
ingin memastikan benarkah hatimu bukan untukku lagi? Namun disisi lain aku
takut, matamu mengatakan “ya aku sudah tak mencintaimu lagi”
Aku disini terjebak dipenjara buatanmu, yang jika ku tetap
bertahan, aku mati bersama kenangan, namun jika aku tinggalkan aku takut kau
menungguku.
Sekarang aku mengerti, bahwa kau tidak hanya terkurung
dihati namun juga takkan kembali.
Tetapi harus selalu kau tau, yang kau lukai bukan hal yang
sepantasnya dilukai. Aku sudah memaafkan dan akupun tidak membenci, namun rasa
kecewa dan sakitku terlalu dalam untuk memberanikan diri melihatmu lagi.
Sekarang biarlah, biarkan saja seperti ini, biarkan saja kau
bahagian bersama pilihan hatimu, aku tidak akan menganggu, aku pergi menutup
semua luka ini sendiri, berusaha menghapus semua tentangmu, kembali seakan kau
tidak hadir dihidupku, dengan begitu aku rasa aku tetap akan mampu jalani hidupku
dengan baik.
Maka pergilah, tapi jangan pernah datang kembali, karena
luka ini masih mengangah. Jika kau ingin bertemu, nanti saja, tunggu sudah mengering,
sehingga aku bisa menatap wajahmu tanpa harus menangis lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar