Rabu, 12 Oktober 2016

hujan dan payung



Langit kian mencekam
Cahaya bintang tak lagi benderang
meredup tergantikan kelam
awan hitam menutupi indahnya langit malam

Kembali hujan turun dengan derasnya
yang masih belum mampu menyamarkan bayangmu dari ujung mata
malah memperkuat aromamu diimajinasiku
perlahan membentuk rasa ingin bertemu

Teringatku dengan tanyamu petang itu
“kau menyukai hujan bukan? Lantas kenapa kau menggunakan payung?”
Terdiam aku berfikir, apa semuanya mesti ada alasan?

Petir kian kencang terdengar
Aku duduk bersandarkan bantal dikamar
Malam ini aku susah terpejam  
Maka terpikir mencari jawaban atas tanyamu

“aku suka hujan, tapi aku jarang sekali berbaur dengan ribuan tetes air hujan”
Memang benar, jadi begini
Sama halnya saat kau menyukai seseorang
Apa kau harus mengikuti kemana ia pergi?
Selalu tenggelam dalam dekap peluknya?
Jika kau suka, cukup dengan hanya melihatnya dari jarak jauh
Kau sudah merasakan debarnya bukan ?
Sudah mampu melengkungkan senyum disudut bibirmu itu
Bukankah itu sudah cukup?
Begitu pula rasa sukaku kepada hujan
Hanya dengan aku nikmati saja rintiknya
Sudah cukupku maknai aku menyukai hujan
Karena yang berlebihan terlalu berisiko

Lagi pula hujan tak perlu tahu aku menyukainya
Seperti bagaimana kau tidak perlu tahu aku menyukaimu
Tak perlu aku nodai rasa ini dengan terjun terlalu dalam dengan perasaanku
Hanya dengan rasa “cukup” aku sudah bahagia

Malam semakin larut dan hujan mulai mereda
Perlahan mata mulai terpejam dengan sedikit senyuman
Aku sudah menjawabnya malam ini
Semoga esok pagi kita berjumpa


Salam rindu dari pengagum hujan dan kamu
Yang menganggap keduanya pemandangan terindah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar