Kamis, 01 Februari 2018

Jadi bagaimanakah film Dilan menurut saya ?

Saya menonton film Dilan di hari ke 5 setelah perilisan, sebelum menonton saya sudah sangat berlapang dada untuk menerima Iqbal sebagai Dilan. saya sudah menghilangkan rasa kecewa saya, saya benar-benar datang menonton untuk melihat cerita dari Dilan, seseorang yang bikin saya jatuh cinta 3tahun yang lalu.
Setelah menonton filmnya, saya merasa bingung kepada diri sendiri, karena review banyak orang memberikan penilaian 9/10, tapi sangat sulit pada awalnya mengartikan apa yang ada didalam pikiran saya, saya terdiam sesaat, apakah perasaan saya yang salah atau orang-orang yang terlalu berlebihan dan tidak menilai terlalu dalam ?.
Banyak hal yang ingin saya bahas disini, sehingga saya bingung apa yang harus saya sampaikan pertama kali. Mungkin yang pertama adalah akting dari pemain, yang pertama Dilan, disini saya sih menilai masih ada beberapa scane yang Iqbal tidak pas menjadi Dilan. Sama seperti penilaian awal saya, oke ada yang bilang “dinovel tidak digambarkan atau dijelaskan Dilan sosok badboy”, iya emang, tetapi ingat Dilan adalah seorang “panglima tempur” “ketua genk motor” dan seseorang yang ditakuti oleh guru yang bernama Suripto. Secara visual sih menurut saya, Iqbal tetap tidak bisa menggambarkan itu, dilihat dari luar, Iqbal dengan tubuh dan wajah imutnya tidak memiliki raut wajah tegas layaknya seorang ketua genk motor, Iqbal tidak memiliki wajah keras layaknya siswa pemberontak. Dan beberapa kalimat romantisnya tetap tidak mampu membius saya, masih ada beberapa bagian yang menurut saya tidak berkesan seperti layaknya di Novel, beberapa kalimat Dilan yang terkesan datar saja di telinga saya, seperti penyampaian “kamu milea ya? Aku ramal” “Rindu itu berat” “Milea kamu cantik”. Tetapi tidak melulu akting Iqbal datar, ada tiga scane yang saya suka, yang pertama saat Dilan dan Milea dipasar, saat dialog “Bilang apa””aku sayang kamu””yah, keduluan”. Yang kedua saat Dilan Milea dirumah Dilan karena rencana penyerangan, saat Dilan memutuskan tidak jadi keluar rumah dan memilih bersama Milea, satu-satunya kejadian difilm ini yang membuat saya sedikit tersentuh. Dan yang paling saya suka dari aktingnya Iqbal disini saat adegan berantem Dilan dan Anhar, disitu saya suka banget dengan ating Iqbal, entah saya merasa itu sempurna, marahnya Dilan kepada Anhar tergambarkan, sesaat wajah dan postur tubuh Iqbal tersisikan, adegan tersebut yang paling saya suka dari semua part Dilan. Untuk aktingnya Dilan yang saya ragukan pada awalnya, tidak terlalu banyak berubah dari nilai awal, saya menilai 6,7/10 untuk akting Iqbal, tetapi menaik jadi 7,5/10 karena adegan berantem dengan Anhar.
Untuk pemain Dilan yang lain, saya suka dengan aktingnya Anhar dan Beni, mereka berdua menurut saya sangat pas memerankan sosok anak muda yang arogan, dan terkesan jahat bagi anak perempuan. Terkhususnya Anhar, entah dari keseluruhan sih saya suka sama aktingnya, hampir 8/10. Beberapa pemain yang aktingnya saya rasa cukup, seperti Nandan dan Piyan yang saya nilai 7/10. Namun sayangnya kurang merasa puas dengan akting beberapa pemain lainnya, termasuk Milea, yang pada awalnya saya yakin sekali dengan Vanesha, ada beberapa adegan yang dia masih kaku sekali sebagai Milea, tetapi ada juga yang bagian saya suka, misal saat dia hanya diam memeluk Dilan, saya suka bagian Milea hanya berdiam dan menggambarkan visual dari seorang Milea tanpa kata-kata, oh iya sama saat bagian Milea berkata “aku ikut”, disitu tergambarkan bagaimana khawatirnya Milea ke Dilan, untuk Vanesha saya masih belum sampai ke nilai 7 sih, sama juga beberapa cast yang lain, seperti Wati, Disa, dan Rani. Kalau untuk pemeran senior seperti Ibu, Ayah, Bunda, Bi Asih dan lainnya saya rasa tidak perlu dan sangat tidak layak lagi buat saya nilai ya.
Selain pemain, saya juga akan membahas cerita. Memang seluruh cerita di Film menggambarkan yang ada di Novel, sayangnya ada beberapa adegan yang saya harapkan masuk ke film tetapi terlewatkan. Ada hal yang harusnya penting untuk digambarkan, seperti Akew dan Susi, sangat disayangkan mereka berdua tidak terlalu tergambarkan di Film, memang untuk memuat semua hal yang ada dinovel ke film tidak mungkin, tetapi menurut saya peran mereka sangat tidak tersampaikan disana. Setidaknya ada pengenalan Susi sih cewek yang naksir Dilan, sayangnya Susi hanya nongol di akhir saat Milea mencari Dilan di warung Bi Eem, iya kalau ada yang nyadar cewek disana si Susi yang naksir Dilan, tapi kalau saya sih seperti “ngapain dah nih cewek” yang hanya “waya-waya” sekali disini. Apalagi sih Akew, harusnya ada sekitar 1menit lah buat perkenalan teman-teman dari Dilan, sedih saya tuh saat sosok Akew hanya melongo tanpa dialog di Film, tanpa ada penjelasan kalau dia tuh si Akew temannya si Dilan. disana kesannya Akew hanya anak SMA yang nongkrong diwarung bi Eem, sangat tidak terkesan dia adalah bagian dari cerita dan orang disekitar Dilan. Dan juga pengambaran kang Adi yang bikin kesal juga kurang, padahal kenapa Milea tidak suka kang Adi karena kang Adi yang terlalu menyombongkan dia pintar dan sebagainya, namun disini tidak terjelaskan.
Saya juga mau mengkritik warungnya bi Eem yang terlalu bagus buat ukuran tempat nongkrongnya anak-anak SMA yang suka ngerokok, juga markas dari anak-anak genk motor. Soalnya di SMA saya dulu juga ada 1kantin, dibelakang sekali dari bagian sekolah yang menjadi markas anak cowok di SMA saya merokok, warungnya itu agak tertutup dan juga hanya sepetak. Jadi kalau di film sih sangat jauh dari bayangan saya, difilm lebih terkesan kayak rumah dari pada warung bagi saya ya. Adapun satu hal yang baru saya sadari, setelah meminta sedikit pendapat dari Dosen saya yang sudah menonton Dilan, katanya sih “hari sabtu kok sekolah pake seragam abu2 bukan pramuka”, dan sebenarnya untuk hal ini saya baru sadar juga, iya juga kok gaada pake seragam pramukanya ya, disini emang terlalu fokus menggambarkan SMA yang identik dengan pakaian putih abu padahal pakaian pramuka juga dipakai oleh anak sekolahan. Juga kesan jalan buah batunya kurang ‘dapet banget’ di film, padahal saya merasa kesan yang mendalam dijalan itu, sampai-sampai jika kebandung saya mau kesana, kejalan buah batu, jalannya “Milea Dilan”. Dan masih ada beberapa hal yang juga kurang, seperti suasana 90an yang tidak terlalu tergambarkan, tetapi banyak yang tidak memperhatikan bahkan tidak perduli karena sudah terlanjur dan terlalu fokus dengan adegan Milea Dilan.
Juga yang paling saya sayangkan, adegan favorite saya di novel, adegan yang paling saya nantikan, adegan yang paling menggetarkan saya (galebaykan pemilihan katanya?), yaitu saat Dilan ngomong “Kepala sekolah nampar dia, kubakar sekolahan ini”, adegan tersebut adegan yang paling berkesan bagi saya dinovel yang sayangnya tidak berkesan difilm, tetapi mungkin sepertinya hal ini dipengaruhi oleh orang-orang sekitar saya yang menonton, karena saat Dilan berkata seperti itu seiisi bioskop malah tertawa bukannya tertegun dan terkesan, entah kenapa mereka menganggap itu adegan lucu bukannya mengharukan. Jadi membuat sayapun tidak merasakan kesan yang sama saat saya membaca novel.
Tapi jujur sepanjang nonton film Dilan saya tidak merasakan baper seperti membaca novelnya, saya tidak senyum-senyum saat adegan romantis dan rayuan yang Dilan ucapkan ke Milea, sayapun tidak ikut tertawa seperti penonton lain saat Dilan mengucapkan lelucon ajaibnya, berbeda saat saya membaca novelnya. Saya tidak hanyut kedalam cerita selama 2jam didalam bioskop. Entah apa saya yang aneh kah ?, atau mungkin karena saya sudah hafal sekali dengan dialog-dialog tersebut sehingga saya sudah merasa biasa saja ketika menontonnya?. Atau karena saya terlalu ber ekspetasi terlalu tinggi kah ?. mungkin juga karena saya sudah tau pada akhirnya itu hanya kenangan Milea yang tidak dapat terulang lagi karena mereka tidak bersatu?. Dan kemungkinan lain karena semua orang sudah terlalu baper, sudah banyak yang kenal dan suka dengan Dilan sehingga saya menjadi biasa?. Terakhir, atau karena menonton ditempat ramai, menonton dengan banyak orang membuat saya kurang khusyuk menonton, berbeda dengan saat membaca novel sendirian dikamar kost-an, tanpa ada suara bising yang mengganggu fantasi?. Entahlah, nanti setelah film Dilan sudah beredar untuk ditonton sendirian dikamar saya akan mencoba menonton lagi, mungkin rasanya akan berbeda. Ahhhh satu hal lagi yang memungkinkan, ataukah karena saya menonton dengan orang yang tidak tepat? Maksudnya, harusnya saya menonton dengan Dilan saya sendiri, agar suasana lebih romantis? Sayangnya, orang tersebut belum ada #lahcurcol. Entahlahh, maafkan saya ya buat semua crew film Dilan termasuk Pidibaiq, bukan saya tidak menghargai atau apa, mungkin hati saya saja yang sedang membeku #curcollagi.
Saya tidak menyesal sudah menonton film Dilan, karena saya mencoba berfikir lebih terbuka, saya lebih memilih untuk menerima, walaupun banyak yang kurang (menurut saya ya), tetapi setidaknya menilai setelah menonton lebih baik daripada saya menilai tanpa melihat jalan ceritanya secara penuh. Jujur, pada awalnya saya mau kasih nilai 6-6,5/10 untuk film ini, dilihat dari akting pemainnya, dan banyaknya suasana lain yg kurang tergambarkan. Tapi saya sangat apresiasi jalan cerita yg tidak di ubah (walaupun masih banyak sekali yg terpotong), ditambah akting Iqbal yg sangat saya hargai karena tak mudah memerankan sosok yang sudah dicintai banyak orang, dan tentunya dengan akting Anhar, kalau dipertimbangkan lagi sekarang saya nilai 7,5/10 untuk keseluruhan film. Mungkin ada yg sudah membaca novelnya tetapi tidak setuju dengan penilaian saya, balik lagi kita memiliki sudut pandang yg berbeda, mungkin kalian tidak melihat apa yang saya lihat, atau alasan-alasan lainnya, seperti awalnya saya juga tidak setuju dengan penilaian kalian, tetapi akhirnya saya hargai, sebaliknya hargai juga pandangan dari saya.
Bagi saya penilaian itu Lumayan dengan jalan cerita yang tetap menarik, apalagi untuk yang tidak membaca novelnya sama sekali, setidaknya sekarang banyak yang tahu Dilan. walaupun jadi lebay juga, dimana-mana dan apa-apa Dilan. Dilan jadi kurang istimewa lagi sekarang. Tapi saya dukung film Indonesia, walaupun menurut saya film ini belum layak menjadi film Terbaik sepanjang masa, namun saya senang ada film Indonesia / film dalam negri yang ditonton banyak orang. Dan harapan saya sampai tayang diseluruh dunia hehe, biar ada yang remake, termasuk korea #lahngayal.
 Tapi buat yang hanya menonton filmnya, saya sarankan coba baca novel Dilan juga, biar lebih dalam lagi gimana penggambaran melalui imajinasi sendiri.

1 komentar: