Kamis, 01 Februari 2018

Film Dilan, diantara keraguan Nonton atau tidak menonton

Setujukah dengan pernyataan “memulai itu sangat sulit?” kalo saya sih setuju, seperti menulis ini, saya bingung mau dimulai dengan kata apa, dibuka dengan kalimat bagaimana. Saya hanya ingin berbagi pendapat saya sendiri tentang film yang sepertinya akan menjadi film yang paling banyak ditonton sepanjang masa ditahun 2018 ini. Yaps film “Dilan”. Sosok yang digilai, disuka, dan dicintai saat ini.
Awalnya saya tidak ingin menonton film ini, ada banyak sekali alasan kenapa saya pernah memutuskan untuk tidak akan menonton film Dilan ini selama tayang dibioskop. Banyak sekali hal yang membuat saya kecewa, karena saya merasa sudah kenal si Dilan cukup lama. Saya  membaca novel “Dilan” ketika novel tersebut belum menjadi best seller, itu sekitar diawal tahun 2015, saya masih semester 3, saya lupa tepatnya dibulan berapa. Saat itu saya sangat jatuh hati dengan sih “Dilan 1990”, belum ada teman satu kelas saya membaca Dilan, jadi saya jatuh cinta sendirian. Saat itu saya hanya membeli Dilan 1990, Barulah diakhir semester 3, sebelum pulang ke Lubuklinggau saya membeli “Dilan 1991” yang mungkin ga saya bahas disini karena filmnya belum sampai disana.
Balik lagi ke alasan kenapa saya gamau nonton film Dilan, karena pada awalnya Pidibaiq, kalian pasti tau siapa dia kan? Dia sempat berkata tidak akan memfilmkan novel Dilan ini, dan saya merasa itu keputusan yang tepat, walaupun ada sih keiinginan agar Dilan difilmkan, tetapi saya takut banyak cerita yang akan dirubah. Tetapi, entah bagaimana saya lupa, terdengarlah ada casting untuk pemain film Dilan, entah apa yang mempengaruhi hingga Pidibaiq memilih keputusan tersebut. Yaudah sih ada rasa senang juga, dan juga Pidibaiq inginnya si Dilan bukan artis dan ingin mencari seorang Dilan dari pemuda asli bandung. Dan saya tambah suka, emang harapan saya bukan artis untuk pemeran Dilan, saya pingin Dilan ini sosok yang benar-benar baru, benar-benar Dilan yang tidak terbayangkan. Lama sekali pemutusan siapa si Dilan, sebelum itu sosok Milea sudah lebih dulu bocor, walaupun adik artis, Vanesha tidak saya kenal sebelumnya, saya merasa Milea sangat cocok diperankan oleh Vanesha, dan sebelumnya untuk Musik Video Voor Dilan juga sudah diperankan oleh Vanesha, saya suka dan merasa pas sekali di music video tersebut dengan sosok Milea ini. Dan setelah berlalu hampir 1tahun lamanya, sosok Dilan pun telah dipilih, dan saya syok sekali yang keluar nama Iqbal, saya kecewa sekali. Bukan, bukan karena saya meragukan aktingnya, bukan karena dia anak boyband, tetapi awalnya karena dia seorang artis, diluar dari janji sebelumnya. Dan lagi, Dilan itu nakal, sedangkan Iqbal punya wajah yang imut menurut saya, masih kurang garang untuk menjadi Dilan, tidak ada nakal-nakalnya, Iqbal terlalu anak baik-baik. Saya mengutarakan kekecewaan saya di Instagram saat itu. Namun, sekali lagi saya mencoba menerima, karena teman saya pernah berkata “Actingnya bagus kok”. Yasudah, akhirnya sampai diakhir tahun 2017, keluarlah trailer dan fix saya sangat kecewa saat itu, akting Iqbal sangat jauh dari yang saya harapkan, kalimat yang harusnya menggetarkan hati, jadi biasa saja ketika diucapkan olehnya. Saat dia berkata “Milea kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu, gak tau sore nanti, kita liat saja” disitu biasa saja, saya benar-benar tidak merasakan apa yang saya rasakan saat membaca kalimat itu di novel. Belum lagi saya membaca komentar orang-orang yang berkata “gausah nonton kalau gasuka”, ditambah saat saya berpendapat dan saya share di instastory saya, yang akhirnya di komentari teman saya “udah ngomong gini berarti ga nonton filmnya ya”  dari situ saya memutuskan untuk tidak nonton, kecuali review orang bagus atau ada yang mau traktir saya.
Setelah filmnya keluar, sudah banyak yang memberikan penilaian 9/10, saya sempat berfikir “sebagus itukah?” tetapi tetap tidak berkeinginan untuk menonton. Namun ketika sudah hari ke 4 penayangan saya akhirnya memutuskan untuk menonton. Kenapa? Pertama saya mikir lagi, saya kan bukan hatersnya Iqbal, jadi kenapa saya berprilaku seakan menjadi hatersnya Iqbal? Lagian yang saya kurang suka hanya pemilihan Iqbalnya, saya suka Vanesha, dan belum lagi cast yang lainnya, setidaknya saya nonton untuk melihat cast lainnya. Alasan kedua, ya kenapa dong kalo saya memutuskan untuk menonton? Toh saya baca novelnya duluankan, saya sudah nunggu filmnya duluan. Emangnya setelah mengkritik tidak boleh nonton?, jadi gini loh, didunia ini emang ada pro dan ada kontra kan? Kalau ada yang kontra jadi harus menjauh ?, misalnya kmu tidak suka cara mengajar Dosen kamu, jadi karena kamu kritik cara ngajarnya, jadi kamu tidak boleh mengikuti kelasnya? Tidak seperti itukan? Walaupun kamu tidak suka. Dan contoh lain, Pernah dong kayak kamu gasuka sama penyanyi si A, karena lagu 1  nya gabagus, tapi ternyata lagu 2 nya bagus, dan karena kamu gasuka penyanyinya apa kamu akan tetap bersikeras untuk tidak mendengarkan lagu 2 nya?, tentu kamu pernah merasa diposisi inikan?. Dan alasan ketiga yang bikin saya akhirnya, nonton aja, yaitu ada review yang bilang tidak banyak perubahan dari novel ke film, banyak dialog dan jalan cerita yang diambil persis seperti di novel. Karena review tersebutlah akhirnya saya memutuskan untuk menonton filmnya, karena saya sangat suka sama novel ini, kalau ceritanya sama dan tidak mengecewakan kenapa tidak untuk ditonton?. Toh saya saat itu hanya tidak terima pada 1 peran, sisanya saya suka, apalagi jika mengingat novelnya, saya cinta sekali, apa salahnya saya menonton sebagai bentuk Melihat bagaimana visualisasi dari cerita yang selama ini hanya saya buat dalam imajinasi saja.
Itulah sedikit cerita saya, kenapa saya akhirnya nonton film Dilan yang padahal awalnya saya mengkritik dan terkesan tidak suka dengan film tersebut. Saya tegaskan sekali lagi, semuanya ada sudut pandang masing-masing, ada pendapat masing-masing, yang mengkritik bukan karena tidak menghargai dan tidak mengapresiasikan. Bagaimanapun juga semua orang membutuhkan kritikan, untuk membangun agar lebih baik lagi. Semua hal di dunia ini, tidak hanya sekedar pujian, kalau semuanya hanya ada pujian semuanya hanya akan besar kepala tanpa mengkoreksi diri dan memperbaiki diri dalam suatu hal.
Jadi saya mau menjawab pendapat orang yang bilang “jangan nilai orang / mengkritik, karena belum tentu kamu bisa acting sebagus dia”, hmm saya sih ga setuju sama pendapat ini. Menurut saya actor wajar dikritik soal aktingnya, karena itu pekerjaannya, seorang actor bekerja untuk berperan menjadi karakter yang sudah diterimanya. Seperti seorang wartawan yang wajar saja dikritik soal tulisannya, penyanyi dikritik karena suaranya. Karena itu adalah pekerjaannya, yang seharusnya emang dijalankan maksimal, dan juga sebagai pendorong agar lebih baik lagi dalam bekerja. Asalkan kritikan itu masih dalam konteks yang wajar dan masuk akal, serta sesuai dengan pekerjaannya tanpa menyimpang ke hal lain, seperti “Iqbalkan anak Boyband bukan badboy” itu sih emang sudah menyimpang dari kritikan yang membangun.

1 komentar: